Tampilkan postingan dengan label Hewan Unik. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Hewan Unik. Tampilkan semua postingan

Oliver the Humanzee - Setengah simpanse setengah manusia?

Ketika Oliver pertama kali muncul ke publik, masyarakat dikejutkan dengan penampilan wajahnya yang sangat menyerupai manusia. Bukan itu saja, kemampuannya boleh dibilang luar biasa untuk ukuran seekor simpanse. Banyak yang percaya kalau Oliver adalah "Missing Link" antara manusia dan simpanse atau makhluk hybrid sehingga ia dijuluki Humanzee (Dari kata human dan chimpanzee).


Tentu saja anggapan itu tidak benar. Namun, tidak bisa disangkal kalau Oliver mungkin adalah simpanse yang paling banyak menyita perhatian para peneliti yang tertarik dengan karakteristiknya.

Jika kalian seorang ilmuwan, mungkin kalian juga akan tertarik dengan Oliver. Coba lihat, umumnya simpanse memiliki wajah seperti ini:


Namun, Oliver memiliki wajah seperti ini.

Ketika melihat wajahnya, saya yakin kalian akan sepakat dengan saya kalau Oliver adalah simpanse paling berwibawa yang pernah kita lihat!

Oliver lahir pada tahun 1958 di Kongo, Afrika. Pada saat usianya dua tahun, ia dibawa oleh pelatih simpanse Frank dan Janet Berger ke New Jersey, Amerika Serikat.

Pasangan Berger tertarik melihat fisik Oliver yang tidak biasa sehingga mereka memutuskan untuk membawanya ke Amerika. Berger bahkan benar-benar percaya kalau Oliver bukan murni seekor simpanse, melainkan hybrid antara kera dan manusia.

Wajah Oliver lebih datar dibanding simpanse lainnya. Ia memiliki kepala yang sedikit botak dengan hidung yang lebih kecil. Perbedaan ini membuat Oliver selalu dikucilkan oleh simpanse-simpanse lainnya.

Sejak kecil Oliver punya kebiasaan berjalan dengan dua kakinya. Ini berbeda dengan simpanse pada umumnya yang berjalan dengan kaki dan tangannya. Bahkan walaupun seekor simpanse diajarkan untuk berjalan dengan dua kaki, mereka akan tetap mengalami kesulitan karena struktur telapak kakinya.

Ia juga tidak pernah berjalan dengan menggunakan buku-buku jarinya seperti simpanse lainnya.

Ia suka menonton televisi dan merokok, persis seperti manusia.

Bahkan, bukan itu saja, menurut Janet Berger, Oliver lebih menyukai seorang wanita (manusia) dibanding simpanse betina.

Kepada Discovery Channel, Janet bercerita kalau saat Oliver berusia 16 tahun, ia mulai tertarik dengan Janet. Ini dibuktikan dengan kebiasaan Oliver menaiki tubuh Janet dan berusaha untuk berhubungan badan dengannya (Yup, kalian tidak salah baca).

Pasangan Berger yang melihat kebiasaan ini kemudian merasa terancam sehingga memutuskan untuk menjual simpanse hidung belang itu kepada orang lain.

Pada tahun 1977, Oliver telah berpindah tangan ke Ralph Helfer, pemilik sebuah taman hiburan, Enchanted Village di Buena Park, Amerika Serikat. Oliver dipekerjakan di taman hiburan itu sebagai simpanse atraksi.

Ketika taman hiburan itu bangkrut, Oliver terus dipamerkan oleh Helfer lewat sarana yang lain. Saat itu, media-media dan masyarakat mulai dihebohkan dengan keberadaannya. Los Angeles Time pernah menulis sebuah ulasan panjang mengenai Oliver. Mereka bahkan berspekulasi kalau Oliver mungkin adalah seekor sub spesies simpanse atau missing link yang telah lama dicari oleh para evolusionis.

Tidak berapa lama kemudian, kemashyuran Oliver mulai mendunia. Ia telah berubah dari seekor simpanse atraksi biasa menjadi primata selebritis yang dikenal dimana-mana.

Ketenaran Oliver bahkan hingga mencapai benua Asia. Pada suatu hari, Oliver pernah tampil dan diujicoba di televisi Jepang dengan disaksikan oleh 26 juta pemirsa. Lewat eksperimen keseimbangan gravitasi yang dilakukan oleh pihak stasiun televisi, disimpulkan kalau Oliver ternyata lebih mirip manusia dibanding simpanse.

Sampel dari tubuh Oliver juga diambil untuk diujicoba. Dari 40 sel yang diambil, 38 sel memiliki 48 kromosom, sedangkan 2 sel memiliki 47. Hasil eksperimen ini menggemparkan karena simpanse memiliki 48 kromosom sedangkan manusia memiliki 46 kromosom.

Jika Oliver memiliki 47 kromosom, itu artinya kemungkinan kalau ia adalah makhluk hybrid benar-benar mendapat dukungan sains!

Pada tahun 1985, Oliver berpindah tangan ke pelatih kera Bill Rivers. Rivers juga melaporkan kalau Oliver tidak pernah bisa akrab dengan simpanse lainnya.

Pada tahun itu, ketenaran Oliver telah memudar dan ia mulai dilupakan oleh publik.

Pada tahun 1989, Oliver dibeli oleh Buckshire Corporation, sebuah laboratorium yang bidang usahanya adalah menyewakan hewan-hewan untuk keperluan uji coba sains atau kosmetik. Ia tidak pernah digunakan sebagai eksperimen, tetapi selama sembilan tahun di tempat itu, Oliver ditempatkan di sebuah kandang kecil yang membuatnya menderita penyakit muscular atrophy.

Pada tahun 1996, presiden Buckshire Corporation, Sharon Hursh, melepaskan Oliver atas permintaan sebuah organisasi primata bernama Primarily Primates. Sampai saat ini, Oliver masih tinggal di fasilitas milik organisasi itu.

Lalu, pertanyaannya adalah, apakah Oliver adalah missing link yang telah lama dicari itu? Atau bigfoot?

Mungkin tidak, tetapi banyak yang percaya kalau Oliver adalah makhluk hybrid antara manusia dengan simpanse.

Sebagai informasi, simpanse dan manusia memiliki kesamaan urutan DNA hingga 95%. Karena itu beberapa ilmuwan sesungguhnya telah meneliti kemungkinan menghasilkan makhluk setengah simpanse dan manusia.

Usaha itu dimulai oleh ilmuwan Rusia bernama Ilya Ivanovich Ivanov pada tahun 1927. Ia menyuntikkan sperma manusia ke rahim tiga ekor simpanse betina. Namun, ketiganya ternyata tidak hamil. Eksperimen berikutnya mengalami hambatan sehingga tidak dilanjutkan. Tidak ada bukti kalau Ivanov berhasil menghasilkan makhluk hybrid manusia simpanse.

Ketika Oliver muncul ke publik, ada rumor yang berkembang di masyarakat kalau seekor simpanse di sebuah laboratorium di China berhasil hamil dari sperma manusia, namun mati sebelum sempat melahirkan.

Kisah serupa juga diceritakan oleh psikolog dari Universitas Albany, Gordon Gallup, yang pernah mendengar kalau Robert Yerkes, pendiri Yerkes national primate research Center di Florida, berhasil menghasilkan makhluk hybrid manusia simpanse pada tahun 1920an. Namun, makhluk itu segera dibunuh oleh Yerkes sendiri.

Walaupun tidak ada bukti yang mendukung kisah-kisah ini, namun spekulasi terhadap identitas Oliver terus berkembang.

Karena itu pada tahun 1996, Primarily Primate memutuskan untuk mengakhiri perdebatan ini dengan mengadakan penelitian ulang terhadap taksonomi Oliver.

Penelitian ini dilakukan oleh Dr.David Ledbetter, ahli genetika dari University of Chicago, yang kemudian memeriksa ulang kromosom Oliver. Ia menemukan kalau Oliver memiliki 48 kromosom, bukan 47 seperti yang disebutkan oleh penelitian sebelumnya.

Dr.Ledbetter juga menyebutkan kalau keunikan wajah dan tengkorak Oliver masih berada dalam batas-batas variasi simpanse yang wajar.

Hasil penelitian ini diumumkan dalam American Journal of Physical Anthropology dan dengan demikian mengakhiri spekulasi mengenai keanehan Oliver.

Namun, satu pertanyaan masih menggantung. Jika Oliver memang simpanse biasa, mengapa kita tidak pernah menemukan simpanse dengan karakter wajah dan perilaku seperti dia?

Hari ini, Oliver masih tinggal di fasilitas Primarily Primate. Usianya sudah lebih dari 50 tahun, cukup tua untuk ukuran simpanse. Matanya sudah hampir buta dan tubuhnya sudah tidak sehat lagi seperti dulu. Kondisi tempat tinggal yang buruk di Buckshire Corporation telah memberinya penyakit Arthritis sehingga ia sudah tidak bisa lagi berjalan dengan dua kaki.

Dari tempat tinggalnya yang terpencil, Oliver masih sering termenung sendiri. Mungkin memikirkan masa-masa ketika ia masih di Kongo, mulai termashyur dan kemudian dilupakan.

Itulah kehidupan.

Bagi kalian yang punya koneksi internet yang cepat, kalian bisa melihat satu dari enam video dokumenter mengenai Oliver. Lima video yang lain bisa kalian saksikan di Youtube.


(link youtube)

Selamat menyaksikan.

Baca juga: Kisah Zana - bigfoot Rusia yang melahirkan anak-anak dari manusia dan sekelompok simpanse berduka melihat kematian temannya.

(wikipedia, scienceray.com, austinchronicle.com)

Buaya monster Normanton tertangkap kamera - diperkirakan memiliki panjang 8 meter

Lebih dari setengah abad yang lalu, seekor buaya terbesar di dunia yang memiliki panjang hingga 8,64 meter ditemukan dan ditembak mati di Normanton, Queensland, Australia. Sejak saat itu, tidak pernah ada buaya sebesar itu pernah ditemukan lagi dimanapun di dunia. Tetapi, semuanya mungkin akan segera berubah.


Minggu ini, Normanton, sebuah kota teluk kecil di Queensland dihebohkan dengan sebuah berita yang cukup mengerikan. Di sungai Norman yang mengaliri kota itu, diperkirakan hidup seekor buaya yang panjangnya mencapai hingga 8 meter. Jika ini benar, maka ini adalah buaya terbesar yang pernah ditemukan pada zaman modern ini.

Berita ini pertama kali datang dari seorang pendeta lokal bernama Elton Thompson. Ia mengakui kalau ia memang belum pernah melihat hewan monster itu, namun ia memiliki bukti berupa foto jejak makhluk raksasa itu.

Pendeta Thompson mengambil foto itu minggu sebelumnya di tepi sungai Norman sekitar 1 kilometer dari pusat kota Normanton. Ia juga mengukur besar jejak tapak itu.

Lebar tapak kakinya 25 centimeter dan sebagian jejak itu melesak ke dalam tanah hingga 2,5 centimeter.


Jarak antara dua kaki belakangnya adalah 1 meter.

Dengan melihat kepada ukuran jejak ini, buaya tersebut kemungkinan bisa memiliki ukuran hingga 8 meter. Katanya:
"Beberapa orang pernah melihat buaya itu di sungai. Semuanya mengatakan kalau ukurannya kurang lebih seperti itu atau lebih besar. Mereka menyebutnya buaya terbesar yang pernah dilihat."
Banyak orang menganggap sepi peringatan Pendeta Thompson. Namun, tidak berapa lama setelah itu, seorang nelayan bernama Clint Spry berhasil mendapatkan foto yang menunjukkan seekor buaya raksasa di sungai Norman. Spry percaya kalau buaya itu memang memiliki ukuran seperti yang diperkirakan oleh pendeta Thompson.

Menurut Spry, buaya itu memiliki ekor yang sama panjangnya dengan perahu yang dinaikinya, yaitu sekitar 3,8 meter.

Penemuan pendeta Thompson dan foto yang diambil Spry segera menyebar lewat media-media lokal dan warga Normanton pun berdebat mengenai ukuran buaya itu.

Beberapa warga tidak mempercayainya. Tetapi bagi yang lain, buaya sebesar itu bukan hal yang aneh. Apalagi mengingat sejarah kota tersebut.

Kota Normanton pernah menjadi sangat terkenal di seluruh dunia karena pada tahun 1957, seekor buaya sepanjang 8,64 meter ditembak mati oleh seorang pemburu. Buaya tersebut, yang kemudian diberi nama Krys, memecahkan rekor dunia karena sebelumnya dan bahkan hingga sekarang tidak pernah ada buaya sebesar itu pernah ditemukan.

Buaya raksasa itu ditembak mati oleh seorang perempuan bernama Krystina Pawlowski di teluk Carpentaria. Karena reputasinya yang membunuh buaya itu hanya dengan satu tembakan, Krystina mendapatkan julukan "One shot Krys".

Walaupun seorang wanita, Krystina adalah pemburu buaya profesional. Sepanjang karirnya sebagai pemburu, ia telah menembak mati 5.000 buaya dan hanya gagal membunuh 3 buaya.


Pada tahun 1965, ia berhenti menjadi pemburu buaya dan berkonsentrasi pada penelitian dan konservasi makhluk itu.

Saat ini, replika buaya yang dibunuh Krys masih dapat ditemukan di kota Normanton.

Lihatlah betapa besar ukurannya.

Sebagian warga lokal percaya kalau buaya sebesar Krys masih bisa ditemukan di kota itu. Pada tahun 1970an, Queensland melarang perburuan buaya untuk tujuan komersil. Sejak saat itu, sepertinya ukuran buaya menjadi semakin besar.

Terry Cummings, salah seorang warga, percaya kalau buaya berukuran 8 meter masih ada dan berkeliaran di kota itu.

"Saya sudah tinggal di kota ini sejak tahun 1950an dan melihat dengan mata kepala sendiri. Buaya-buaya itu memang berukuran besar." Katanya.

Herbie Harold, 52 tahun, yang pertama kali menemukan jejak buaya tersebut dan yang kemudian memberitahukannya kepada pendeta Thompson, mengatakan kalau ia pernah melihat buaya raksasa di sungai Norman. Ia juga percaya kalau seekor monster buaya berukuran besar ada dan berkeliaran di kota itu.

Bagi kota teluk seperti Normanton, buaya adalah pemandangan biasa sehingga sudah tidak menakutkan lagi bagi warga lokal. Namun, mungkin semuanya akan berubah jika seekor buaya berukuran 8 meter kembali muncul dan membuat keributan.

(couriermail.com.au, news.com.au)

Adakah hubungan telepatik antara hewan peliharaan dengan pemiliknya - Kisah Jaytee dan Pamela Smart

Orang-orang mengatakan kalau anjing adalah sahabat terbaik manusia. Pandangan ini mungkin benar bagi Jaytee, seekor anjing terrier campuran, dan majikannya yang bernama Pamela Smart. Entah bagaimana mulanya, seakan-akan ada hubungan telepatik yang tercipta diantara keduanya.


Jaytee tinggal di Romsbottom, Manchester, Inggris, bersama pemiliknya Pamela Smart di sebuah apartemen di lantai dasar, persis di sebelah apartemen orang tua Pam.

Pam mulai mengadopsi anjing itu pada tahun 1989 ketika Jaytee masih bayi. Sejak saat itu keduanya menjadi sahabat yang tidak terpisahkan.

Pada tahun 1991, ketika Pam masih bekerja sebagai sekretaris di sebuah sekolah di Manchester, ia selalu menitipkan Jaytee kepada kedua orangtuanya ketika ia pergi bekerja.

Dan kisah Jaytee yang luar biasa ini pun dimulai.

Tidak berapa lama kemudian, kedua orang tua Pam mulai menyadari kalau Jaytee selalu pergi ke jendela setiap pukul 16.30, jam saat Pam mulai pulang kantor. Jaytee akan duduk dengan tenang di depan jendela hingga Pam tiba sekitar 45 menit kemudian. Ketika Pam terlihat di depan apartemen, Jaytee akan segera berlari menyambutnya sambil menggoyang-goyangkan ekornya dengan gembira. Perbuatan ini dilakukannya setiap Pam pulang bekerja.

Karena Pam bekerja dengan jam-jam yang rutin, kedua orangtuanya beranggapan kalau apa yang dilakukan Jaytee adalah hal yang biasa. Mungkin Jaytee mengingat dengan baik jam saat Pam selesai bekerja.

Pada tahun 1994, Pam tidak lagi bekerja di sekolah itu. Sekarang ia tidak lagi memiliki jadwal pulang yang teratur. Anehnya, kedua orangtuanya menemukan kalau Jaytee masih bisa mengetahui jam kepulangan Pam dengan akurat.

Biasanya Jaytee akan segera berlari ke jendela pada saat yang sama ketika Pam memutuskan untuk pulang, bukan ketika Pam sudah di tiba di dekat Apartemen.

Memang Jaytee juga biasa mendatangi jendela, namun umumnya hanya sebentar-sebentar. Ketika saatnya Pam hendak pulang ke apartemen, Jaytee duduk lebih lama hingga Pam tiba.

Perilaku ini menunjukkan seakan-akan Jaytee memiliki koneksi dengan pikiran Pam, dengan kata lain, hubungan telepatik.

Kemudian keluarga Smart memutuskan untuk mengadakan penyelidikan yang lebih serius. Lalu, mereka menghubungi seorang peneliti perilaku hewan bernama Dr. Rupert Sheldrake.

Dr.Sheldrake memiliki gelar Phd dalam bidang biokimia dari Universitas Cambridge. Ia juga anggota dari Royal Society.

Dr. Sheldrake yang memang telah lama mempelajari mengenai hubungan telepatik hewan mulai mengadakan lebih dari 100 eksperimen terhadap Jaytee. Ia memasang video kamera di berbagai tempat untuk merekam perilaku Jaytee sehari-hari. Ia juga merekam area yang terlihat dari jendela tempat Jaytee biasa menunggu untuk memeriksa apakah Jaytee benar-benar menunggu Pam atau hanya duduk di jendela karena bereaksi terhadap suara mobil yang lewat.

Ia juga mengubah-ubah jadwal kepulangan Pam dan memintanya untuk menggunakan alat transportasi yang berbeda-beda, seperti dengan taksi, sepeda, atau kereta.

Dalam eskperimen-eksperimen ini, Ia menemukan kalau Jaytee mampu mengantisipasi kepulangan Pam dengan akurasi hingga 85 persen. Bagi Dr. Sheldrake, eksperimen ini membuktikan apa yang telah lama dipercayainya, yaitu dengan suatu cara, hewan peliharaan bisa mengembangkan hubungan telepatik yang kuat dengan majikannya. Kemampuan seperti ini masih belum bisa dijelaskan dengan sains.

Kisah Jaytee kemudian menjadi sangat terkenal ketika salah satu stasiun televisi Austria membuat film dokumenter mengenainya dan menayangkannya ke seluruh dunia.

Menurut Dr. Sheldrake, jika seekor hewan bisa memiliki hubungan telepatik dengan pemiliknya, ada kemungkinan kalau di antara hewan-hewan itu sendiri juga memiliki hubungan telepatik. Pengetahuan mengenai hal ini akan sangat bermanfaat bagi para naturalis dalam memperlajari perilaku hewan di alam liar.

(Ilustrasi)

Namun, peneliti lain lebih skeptis. Richard Wiseman dari universitas Hertfordshire yang diundang Dr. Sheldrake untuk ikut meneliti kemampuan Jaytee menganggap kalau perilaku Jaytee sama sekali tidak menunjukkan adanya hubungan telepatik dengan Pam.

Menurutnya, Jaytee memang biasa mendatangi jendela itu ketika mendengar suara kucing atau mobil yang lewat.
"Pada waktu-waktu yang acak ketika Pam pulang ke rumah, memang anjing itu duduk di depan jendela. Namun ketika kami memutar ulang film itu, kami menemukan kalau anjing itu memang secara teratur mendatangi jendela itu. Bahkan, malah menjadi aneh kalau saat Pam pulang dan anjing itu tidak ada di depan jendela."
Wiseman percaya kalau keluarga Smart mengalami bias dalam berpikir, atau dalam bahasa psikologinya "Confirmation Bias". Maksudnya adalah seseorang akan lebih condong untuk mengenali atau bahkan mencari peristiwa yang mendukung kepercayaan mereka dan mengabaikan peristiwa yang tidak sesuai dengan kepercayaan itu. Pendapat ini serupa dengan para pendapat para skeptis lainnya.

Namun, Dr.Sheldrake bertahan pada pendapatnya. Menurutnya, kemampuan telepatik pada hewan sesungguhnya bukan sesuatu yang aneh.
Ia mengatakan kalau kita bisa menemukan kemampuan telepatik ini muncul dalam keseharian para hewan peliharaan. Misalnya seekor anjing atau kucing yang tiba-tiba menjadi senang ketika mengetahui majikannya akan pulang atau seekor kucing yang segera menghilang ketika tahu hendak diajak ke dokter hewan.

Para pemilik hewan peliharaan pun mengetahui dengan persis mengenai hal ini. Menurut sebuah survey yang dilakukan di Inggris terhadap pemilik hewan peliharaan, paling tidak 48 persen pemilik anjing dan 33 persen pemilik kucing mengatakan kalau hewan peliharaan mereka berespon terhadap pemikiran mereka yang tidak terucapkan.

Dr.Sheldrake menceritakan mengenai salah seorang rekannya, Profesor di universitas California di Berkeley, yang juga punya pengalaman dengan hewan peliharaannya.
"Ketika telepon berdering di rumah, istrinya akan langsung mengetahui kalau yang menelepon adalah suaminya karena Whiskins, kucing mereka, akan segera bergegas menuju ke telepon dan menarik pegangannya. Seringkali ia berhasil menariknya sehingga suara meongnya bisa terdengar dengan jelas di ujung telepon. Jika orang lain yang menelepon, Whiskins tidak akan menggubrisnya."
Dalam kasus yang lain, Sheldrake menceritakan mengenai hewan-hewan pada masa perang dunia II yang bisa merasakan datangnya serangan udara bahkan ketika suara pesawat musuh masih belum terdengar.

Jadi, apakah seekor hewan peliharaan memiliki hubungan telepatik dengan pemiliknya?

Mungkin hanya kalian yang memiliki hewan peliharaan yang bisa mengetahuinya.

Bagi Jaytee sendiri, ia tidak mengerti dengan perdebatan sains yang sedang terjadi. ia juga tidak peduli dengan apa yang dikatakan oleh Richard Wiseman dan para skeptis lainnya. Dan pastilah ia juga tidak menginginkan gelar sebagai anjing paranormal terhebat di dunia.

Pam dan Jaytee
Satu-satunya yang diinginkannya hanyalah melihat sahabatnya Pamela pulang ke apartemen setiap hari. Dan baginya itu sudah lebih dari cukup.

Baca juga:
Oscar - kucing yang berhasil mendeteksi 50 kematian dengan akurat.
Twin Connection - adakah hubungan telepatik di antara saudara kembar?

(Sheldrake.org, ru.org, opensourcescience.com)

Lima makhluk bumi yang mungkin bisa hidup di luar angkasa

Selalu ada pertanyaan di dalam benak kita semua: "Apakah ada makhluk hidup yang bisa tinggal dan bertahan di planet lain?" Jika kita berbicara soal manusia, mungkin tidak. Tetapi, mungkin lima makhluk bumi di bawah ini bisa.


Untuk bertahan hidup, manusia selalu membutuhkan unsur-unsur pendukung kehidupan seperti oksigen. Namun beberapa makhluk hidup yang ada di bumi ini ternyata memiliki karakteristik yang cukup unik dan karakteristik ini memungkinkan mereka untuk hidup pada kondisi ekstrim di luar angkasa.

Sekarang, mari kita lihat lima makhluk super berikut ini:

Cacing yang hidup di es Metana


Saya tahu, melihat foto di atas, kalian mungkin akan teringat dengan salah satu makhluk dalam film alien. Namun, makhluk yang terlihat cukup mengerikan di atas sebenarnya adalah makhluk bumi. Ya, ia diam di antara kita.

Makhluk itu sesungguhnya adalah seekor cacing yang hidup di lempengan es Metana yang terdorong ke permukaan dari dasar laut di dekat pantai Mexico.

Es Metana adalah sebuah gas hidrat yang terbentuk secara alami pada tekanan tinggi dan temperatur rendah di dasar laut yang dalam.

Menurut para ahli dari Pennsylvania State University, penemuan cacing ini telah membangkitkan berbagai spekulasi mengenai kehidupan di luar angkasa.

Erin McMullin, salah satu peneliti yang turut menemukan cacing tersebut berkata:
"Sangat menyenangkan ketika kita sibuk berspekulasi mengenai kehidupan di planet lain, kita malah terus menemukan bentuk kehidupan baru yang sepertinya bukan berasal dari bumi."
Lalu, jika kita memberikan sebuah tempat baru baginya di angkasa luar, dimanakah tempat yang cocok baginya?

Jawabannya adalah di Titan, salah satu bulan Saturnus.

Di Titan, terdapat lautan Methana yang berlapis-lapis. Jika kita menaruh cacing ini di Titan, ada kemungkinan ia dapat bertahan hidup dengan mendiami lapisan es tersebut.

Makhluk yang bisa hidup di ruang hampa



Setelah melihat foto di atas, saya yakin, kebanyakan dari kalian akan segera teringat dengan beruang. Tidak salah juga. Tapi, makhluk lucu ini bukan seekor beruang. Ia bernama Tardigrade. Karena kemiripannya dengan beruang, ia juga sering disebut dengan nama Beruang air.

Berbeda dengan beruang darat yang bertubuh besar, makhluk ini hanya memiliki panjang sekitar setengah milimeter. Ini membuatnya tidak terlihat oleh mata telanjang.

Tetapi, jangan menilainya hanya dari ukurannya. Makhluk mikro ini termasuk salah satu makhluk hidup yang paling tangguh di Bumi.


Ia memiliki satu kekuatan super.

Ia bisa masuk ke dalam kondisi diam sempurna yang disebut TUN. Dalam kondisi ini, makhluk ini bisa bertahan terhadap fluktuasi temperatur, bahkan yang paling ekstrim sekalipun.

Pada tahun 2008, beberapa ekor Tardigrade ikut dikirim ke luar angkasa dan terbukti kalau mereka bahkan bisa bertahan di dalam ruang hampa udara.

Jadi, jika kita melepasnya ke ruang angkasa, ada kemungkinan kalau makhluk ini bisa mengarunginya hingga menemukan tempat berdiam yang cocok baginya.

Cacing raksasa pemakan belerang
Makhluk ini hidup di tepi gunung api super panas jauh di dasar lautan. Dan ia memakan belerang yang dibawa oleh bakteri lokal.


Cacing raksasa ini bisa bertumbuh hingga sepanjang 2,1 meter dan bisa hidup 5 mil di bawah permukaan laut dalam kondisi tekanan yang ekstrim. Tubuh mereka didominasi warna merah. Ini karena banyaknya nadi yang berisi darah di dalamnya.

Yang menarik dari cacing ini adalah kemampuannya bertahan terhadap panas yang ekstrim dan masih tetap bisa menerima kebutuhan hidup yang cukup.

Dimanakah tempat yang cocok baginya di luar angkasa?

Makhluk ini mungkin bisa hidup di Venus dimana terdapat sumber belerang yang luar biasa banyak.

Mikroba Antartika pemakan besi
Darah mengalir deras di Antartika. Apakah ada pembantaian hewan besar-besaran sedang berlangsung?


Tidak! Unsur berwarna merah itu ternyata mikroba yang berdiam di dalam kumpulan air yang terjebak di bawah lapisan es.

Menurut majalah Nature:
"Cairan ini telah terjebak di dalam glasier selama paling tidak 1,5 juta tahun lamanya. Di dalamnya, paling tidak terdapat 30 jenis bakteri yang masing-masingnya memiliki pergerakan kimia yang unik."
Menurut salah satu peneliti bernama Mikucki, mikroba ini menggunakan sulfat sebagai katalis dalam sebuah rantai reaksi yang kompleks dimana penerima elektron akhirnya adalah besi.
"Ini adalah contoh bagaimana sebuah ekosistem berhasil bertahan walaupun tertutupi oleh kegelapan dan es yang tebal."

"Life Finds a Way."
Dengan karakteristik ini, maka mikroba ini mungkin dapat hidup di Europa, salah satu bulan Jupiter yang memiliki lautan yang kaya akan zat besi di bawah lapisan esnya yang tebal.

Bakteri yang mampu bertahan dari radiasi

D. Radiodurans adalah nama bakteri ini. Ia mampu bertahan dalam dosis radiasi yang seribu kali lebih kuat dibanding dosis yang dapat diterima manusia.


Kemampuan ini didapatkannya karena sistem pemulihan DNAnya yang unik.

Manusia yang menerima radiasi umumnya meninggal karena partikel radioaktif tersebut menghancurkan DNAnya. Akibatnya sistem regulasi di tubuh pun terhenti.

Namun bakteri ini secara menakjubkan mampu menyusun kembali DNA nya yang telah hancur.

Salah satu masalah yang dihadapi ketika manusia mencoba untuk hidup di bulan atau Mars adalah adanya radiasi yang cukup mematikan. Jika bakteri ini dilepas di angkasa, maka radiasi yang ada di sana tidak akan mampu mempengaruhi tubuhnya.

Jadi, jika suatu hari kita menjelajahi angkasa luar dan planet-planetnya, jangan heran kalau suatu hari kita bisa menemukan makhluk seperti ini di sana. Mungkin saja.

(i09.com)

Draco Sumatranus - Naga Avatar dalam kehidupan nyata

Apakah ada sesuatu yang menarik selain Halelujah Mountain di film Avatar ? Ya, naga terbang berwarna merah yang disebut Toruk. Jika Halelujah Mountain terinspirasi dari sebuah gunung di Cina, maka mungkinkah naga merah terbang di film itu terinspirasi dari seekor hewan yang bisa ditemukan di Indonesia ?


Toruk - naga merah terbang di film "Avatar"

Naga merah terbang atau Toruk terbukti menjadi kunci bagi Jake untuk menaklukkan hati suku Na'vi. Memang, makhluk terbang berbentuk seperti itu tidak pernah kita jumpai di dunia ini. Namun, bagaimana dengan makhluk yang berukuran jauh lebih kecil, merayap dan suka berlompatan kesana-kemari ?

Perkenalkan : Draco Sumatranus atau Common Gliding Lizard. Dari nama latinnya, kita tahu bahwa makhluk ini dijuluki Naga Sumatera oleh para ilmuwan. Walaupun disebut naga, makhluk ini sesungguhnya adalah seekor kadal yang memiliki kulit berbentuk sayap di kedua sisinya.


Hewan indah ini bisa ditemukan di pulau Sumatera dan merupakan kekayaan fauna Indonesia yang tiada duanya. Selain Sumatera, hewan ini juga bisa dijumpai di Kalimantan, Malaysia dan Singapura. Umumnya, ia tinggal di pohon. Namun ketika hendak bertelur, yang betina akan turun ke tanah.


Kedua kulit di sisi badannya dapat berfungsi sebagai sayap yang membantu kadal ini melompat dari satu pohon ke pohon yang lain. Sayangnya (atau untungnya) makhluk ini hanya memiliki ukuran tubuh sekitar 9 cm dengan ekor yang sedikit lebih panjang dari itu.

(ecorazzi.com)

Oscar - kucing yang berhasil mendeteksi 50 kematian dengan akurat

Seekor kucing bernama Oscar yang tinggal di sebuah panti jompo telah membuat kagum para staf medis yang ada di sana karena telah memprediksi 50 kematian pasien dengan akurat. Ia melakukannya dengan cara menghabiskan waktu bersama pasien di jam-jam terakhir kehidupan mereka.


Dr. David Dosa, seorang geriatrik (dokter spesialis manula) yang juga asisten profesor di Brown University mengatakan bahwa selama lima tahun, Oscar hampir tidak pernah melakukan kekeliruan. Malah seringkali Oscar membuktikan salahnya prediksi staf medis di panti jompo itu mengenai mana pasien yang akan segera meninggal.


Kucing itu, yang sekarang berumur 5 tahun, dikenal sebagai kucing yang tidak suka bersosialisasi. Sewaktu masih kecil, ia diadopsi oleh Panti Jompo Steere House and Rehabilitation Centre di Providence, Rhode Island, yang khusus merawat orang-orang tua yang mengalami dementia dan Alzheimer. Oscar dipelihara dan tumbuh besar di lantai 3 fasilitas itu.

Dr. Dosa pertama kali mempublikasikan kemampuan Oscar pada sebuah artikel di New England Journal of Medicine di tahun 2007. Sejak itu, Oscar telah berhasil memprediksi kematian dalam jumlah yang lebih banyak. Kemampuan ini juga yang membuat para staf medis di panti jompo itu menjadi yakin.


Oscar biasanya berkeliling dari satu ruangan ke ruangan yang lain. Jika merasakan ada pasien yang akan meninggal dalam beberapa jam, ia akan segera menghampirinya, melompat ke sisi tempat tidurnya dan berdiam diri di situ untuk beberapa waktu. Ia tidak pernah melakukan ini untuk pasien yang tidak sekarat.


Jika pintu kamar pasien yang akan meninggal tertutup, Oscar akan menggaruk-garuk pintu minta dibukakan.


Pernah suatu hari, para staf medis memperkirakan seorang pasien akan segera meninggal. Jadi, mereka mengambil Oscar dan menempatkannya di samping tempat tidur sang pasien.

Oscar yang tidak merasakan kematian segera berlari keluar dan duduk di kamar pasien lainnya. Penilaian Oscar ternyata lebih akurat dibanding perawat, pasien kedua yang dihampirinya meninggal pada malam harinya. Sedangkan pasien pertama baru meninggal dua hari setelahnya.

Dr. Dosa dan staf lainnya menjadi sangat yakin dengan penilaian Oscar sehingga mereka akan segera memberitahukan keluarga pasien ketika melihat Oscar melompat ke salah satu tempat tidur pasien dan berbaring di situ.


"Perilaku Oscar menunjukkan bahwa ia tidak sedang iseng. Ia bisa saja keluar ruangan selama dua menit untuk mengambil mainannya, tapi setelah itu, ia akan segera kembali ke samping pasien. Sepertinya ia benar-benar menganggapnya sebagai ritual," Tulis Dr.Dosa.

Panti jompo itu juga memelihara lima kucing lainnya. Namun tidak ada satupun yang menunjukkan perilaku yang sama dengan Oscar.

Dalam bukunya yang berjudul,"Making rounds with Oscar : The extraordinary gift of an ordinary cat", Dr Dosa tidak bisa memberikan penjelasan sains yang solid mengenai perilaku Oscar.


Ia hanya menduga bahwa Oscar memiliki kemampuan seperti anjing, yaitu dapat mencium bau Kanker dan mendeteksi Ketones, sejenis biokimia berbau yang keluar dari sel-sel yang mati.

Nicolas Dodman, seorang pakar perilaku hewan di Tufts University Cummings School of Veterinary Medicine menyarankan untuk mendokumentasi perilaku Oscar lebih mendalam lagi untuk mengetahui apakah ia benar-benar merasakan kematian atau hanya sekedar tertarik dengan selimut hangat yang memang sering diberikan untuk pasien yang sekarat.

Daniel Estep, PhD, seorang ahli perilaku hewan di Littleton, Colorado juga punya pendapat mirip. "Satu hal yang terjadi kepada orang-orang yang sekarat adalah kenyataan bahwa mereka tidak banyak bergerak. Mungkin kucing itu melihat fakta bahwa sang pasien sangat tenang sehingga ia tertarik mendekatinya."

Namun, kebanyakan para ahli hewan lainnya setuju dengan teori bahwa Oscar mencium bau ketones.

Peran Oscar ternyata bukan hanya mengetahui saat kematian pasien. Keluarga pasien yang meninggal seringkali mendapatkan penghiburan karena kehadirannya. Dalam iklan kematian di surat kabar, beberapa keluarga bahkan memberikan rasa terima kasih khusus untuk Oscar.

Dr.Dosa berkata,"Keluarga yang ditinggalkan mengalami penghiburan yang luar biasa karena menyadari Oscar ada disisi orang yang mereka cintai ketika mereka tidak dapat hadir."


Inilah yang membuat Oscar menjadi spesial.

(telegraph.co.uk)


Komentar Pilihan

Sony said...


"Anjing saya, Pinky, juga memiliki kemampuan mendeteksi orang2 yg akan meninggal, namun dia tidak sprti Oscar, yg selalu menghampiri orang yg akan meninggal. Pinky selalu melolong disiang bolong(lolongannya terdengar sangat memilukn, berbeda jika dia melolong krn melihat setan) jika ada seseorang yg akan meninggal di sekitar tempat kami tinggal dan menurut pengamatan kami terhadap lolongan Pinky, baru berjumlah 10 orang yg diketahui meninggal. Sayangnya, Pinky tidak bisa berbicara dalam bahasa manusia, seandainya aja bisa, kami mungkin bisa berbuat sesuatu. Setidaknya kami tahu siapa yg akan dipanggil Tuhan, entahkah itu kami, ataupun tetangga kami."

February 6, 2010 7:40 PM

Oarfish - Monster laut yang legendaris

Oarfish - Monster laut yang legendaris

Pada masa lampau, ketika mobil dan pesawat terbang belum ada, para pengelana menjelajahi dunia ini dengan kapal laut. Dan sejak saat itu muncullah legenda monster-monster laut yang luar biasa. Apakah monster-monster ini benar-benar ada ? ataukah hanya khayalan para pelaut yang sedang mabuk ? Walaupun sains belum bisa menentukan secara pasti identitas monster-monster tersebut, tapi paling tidak ada beberapa tersangka utama yang bisa dipertimbangkan. Ini salah satunya, Regalecus Glesne atau Oarfish.


Jika kalian melihat fotonya, saya rasa kalian tidak akan heran melihat makhluk ini sering disangka sebagai monster atau ular laut.


Ikan ini termasuk ke dalam kategori langka dan sangat jarang terlihat. Saking langkanya sehingga ikan ini tidak pernah tertangkap kamera dalam keadaan hidup hingga tahun 2001.

Ia termasuk ke dalam family Regalecidae yang memiliki empat spesies. Salah satu spesies, Regalecus Glesne, yang sedang kita bicarakan ini, pernah masuk ke dalam Guinnes Book of World Record karena pernah ditemukan seekor yang hidup dengan panjang tubuh hingga 11 meter.


Makanannya adalah plankton dan makhluk-makhluk laut kecil lainnya. Ia mampu hidup hingga kedalaman 1.000 meter. Anehnya, ikan ini tidak memiliki sisik. Tubuhnya hanya diselimuti oleh semacam membran yang disebut guanine.

Ikan ini memiliki sirip tunggal berwarna merah dan termasuk ikan yang penyendiri. Namun ketika ikan ini sedang sakit atau sekarat, sepertinya sang penyendiri ini tidak ingin mati dalam kesepian. Jadi ia naik ke atas permukaan laut dan bertahan disitu hingga mati. Mungkin untuk menarik perhatian para pelaut, atau hanya ingin memandang matahari untuk terakhir kalinya.


Para pelaut masa lampau mungkin telah melihat ikan ini di permukaan dan mempersepsikannya sebagai monster laut. Misalnya, pada tahun 1860, ketika seekor Oarfish sepanjang 5 meter terdampar di pantai Bermuda, para penduduk segera mengkaitkannya dengan monster laut yang legendaris.

Walaupun sains sudah bisa membuka tabir ikan langka ini, tapi saya rasa, setiap orang yang baru pertama kali melihat ikan ini akan takjub, sama seperti ketika saya melihatnya untuk pertama kali.

(wikipedia, seasky.org)
Misteri Ular Terbang - Mitos atau fakta

Misteri Ular Terbang - Mitos atau fakta

Konon di hutan Kalimantan yang misterius, para penduduk sekitar menceritakan mengenai adanya ular yang biasa terbang dan hinggap di kepala manusia untuk menyantapnya. Di Lombok, ada kisah mengenai ular Berare yang disebut-sebut juga sebagai ular terbang. Apakah makhluk yang disebut ular terbang hanya sebuah mitos ataukah memang ada di dunia nyata ?


Ular terbang ternyata bukan sekedar mitos. Makhluk ini juga telah terdokumentasi dengan baik oleh dunia sains. Namun pada awal penampakannya, bahkan para zoologyst asingpun tidak dapat mempercayainya. Sebenarnya ular ini tidak benar-benar terbang, namun nama ini telah melekat pada hewan yang satu ini selama lebih dari 100 tahun.

Laporan mengenai ular terbang di Indonesia pertama kali diceritakan oleh para Misionaris asing yang bekerja di Sumatera.

Pada suatu hari di tahun 1833, seorang sesepuh penduduk lokal di Sumatera mendatangi dua misionaris barat yang sedang bekerja di sana untuk menceritakan pengalaman anehnya.

Sesepuh yang bernama Tam Basar itu bersumpah bahwa ia dan para penduduk lainnya pernah melihat ular yang sedang terbang di udara. Takut dengan bahaya yang mungkin ditimbulkannya, mereka segera membunuh ular itu sesaat setelah mendarat di dekat mereka.

Kedua misionaris barat itu tidak begitu saja mempercayai kisah itu. Namun Tam Basar bersikeras bahwa ia menceritakan hal yang sesungguhnya. Ia juga menambahkan bahwa ular itu memiliki panjang sekitar 1,2 meter dan tidak memiliki sayap.

Satu tahun kemudian, pada Januari 1834, salah satu diantara misionaris tersebut, NM Ward, sedang berjalan melewati hutan dekat sungai Pedang Bessie, sekitar 1,6 km dari lokasi dimana Tam basar melihat ular terbang.

Ia dan teman seperjalanannya berhenti sebentar untuk mempelajari sebuah pohon tinggi di dekat situ. Ketika mereka melihat ke atas, mereka begitu terkejut karena melihat seekor ular yang sedang terbang, persis seperti yang diceritakan oleh Tam Basar. Ular itu terlihat bergerak dengan cepat di udara di bawah pohon tempat mereka berdiri.

Ward kemudian menceritakan pengalamannya dalam surat kabar "Missionary Herald" edisi Maret 1841. "Dengan demikian, aku menjadi yakin dengan adanya ular terbang. Para penduduk lokal yang mengenal wilayah hutan di situ juga mengetahui fakta ini dengan jelas." Katanya.

Walaupun kedengarannya aneh, namun sekarang kita bisa mengetahui bahwa di Asia Tenggara paling tidak ada lima spesies "ular terbang". Ular-ular tersebut sebenarnya tidak terbang, melainkan meluncur atau melompat dan keberadaan ular ini bahkan sudah dibuktikan dengan beberapa foto dan rekaman video.

Di bawah ini adalah ular terbang jenis Chrysopelea Pelias :



Di bawah ini adalah ular terbang jenis Chrysopelea Ornata :



Dibawah ini adalah foto ular terbang dari jenis Chrysopelea Paradisi yang terlihat di Singapore ketika sedang meluncur di langit :


Ini adalah foto ular terbang dari jenis Chrysopelea Paradisi ketika sedang take off. Tubuhnya yang membentuk huruf S membantunya untuk memberikan daya dorong yang lebih kuat :


Ular-ular jenis Chrysopelea ini termasuk ular yang memiliki bisa. Namun bisa racun pada ular jenis ini tidak mematikan bagi manusia.

Jadi misteri ular terbang Indonesia sebenarnya sudah tersingkap dengan jelas. Hewan ini benar-benar ada dan hidup sampai sekarang. Bahkan bukan hanya di Indonesia, melainkan juga di negara Asia dan Amerika.

Namun soal ular di Kalimantan yang katanya menyantap kepala orang, hmm...saya tidak tahu pasti.

Walaupun cerita ini singkat, tapi menambah pengetahuan kan ? :p


(forteantimes.com, flyingsnake.org)

Ikan berkepala buaya - Makhluk jadi-jadian ?

Akhir-akhir ini, masyarakat Indonesia dihebohkan dengan penemuan ikan berkepala buaya oleh seorang nelayan di Surabaya. Segera sebagian orang mengkaitkan penemuan ini dengan peristiwa-peristiwa mistik. Benarkah ikan ini makhluk jadi-jadian ?


Walaupun sudah diklarifikasi oleh beberapa media seperti kompas, namun berita ini masih beredar luas tanpa klarifikasi. Jadi saya memutuskan untuk memposting berita ini.

Pertama, sebenarnya dalam 3 bulan ini ada dua ikan berkepala buaya yang ditemukan di Indonesia. Yang pertama adalah di Sumatera Utara pada bulan September 2009. Ini fotonya :


Ikan ini diisukan memiliki kekebalan tubuh dan beberapa paranormal menganggap ikan ini sebagai ikan gaib.

Ikan yang kedua adalah yang ditemukan di Surabaya pada bulan November ini. Ini fotonya :


Sama seperti ikan yang ditemukan di Sumatera Utara. Ikan ini juga dianggap sebagai ikan jadi-jadian.

Kompas.com sebenarnya sudah mengklarifikasinya dengan mengidentifikasi ikan ini sebagai Lepisus peus, seekor ikan yang berasal dari Meksiko. Ini kutipannya :
SURABAYA, KOMPAS.com � Ikan kepala buaya tersangkut di jala saat warga mencari ikan di sungai kawasan Jagir, Surabaya, Jumat (13/11). Ikan yang membuat geger warga ini adalah jenis Lepisus peus yang dinyatakan sebagai spesies asing dari Meksiko yang bisa berinvasi ke ekosistem lokal.
Namun anehnya, saya tidak bisa menemukan informasi mengenai Lepisus Peus di google atau Yahoo. Apabila kita mengetik kata Lepisus Peus, maka kita hanya akan menemukan entry yang keluar adalah entry yang berasal dari media/blog Indonesia. Apakah Kompas salah kutip ?

Saya tidak bisa memastikannya karena saya bukan ahli ikan.
Tapi mungkin yang dimaksud oleh Kompas adalah Lepisosteus, bukan Lepisus Peus.

Ikan ini jelas bukan ikan jadi-jadian. Mereka berasal dari Family Lepisoteidae yang terdiri dari 7 spesies yang terbagi dalam dua genus. Genus yang pertama adalah Atractosteus dan yang kedua adalah Lepisosteus.

Ikan jenis ini biasa disebut "Gar", dan yang bermoncong buaya biasa disebut "Alligator Bar".

Ikan ini adalah ikan air tawar yang hidup di perairan Amerika hingga Mexico. Ia bisa mencapai panjang hingga 3 meter dan berat hingga 100 kg. Dengan melihat giginya, tentu saja kita mengetahui bahwa ikan ini adalah seekor karnivora. Ikan ini sebenarnya bukan ikan yang asing bagi para penduduk Amerika. Mungkin bagi Indonesia, ikan ini memang terlihat aneh sehingga dianggap jadi-jadian.

Ini foto-foto dari genus Atractosteus (3 spesies).

Ini dari spesies Atractosteus Tristoechus :


Dibawah ini ikan dari species Atractosteus Spatula yang mirip dengan yang ditemukan di Sumatera Utara (ujung moncong atas agak membulat) :


Di bawah ini adalah species bernama Atractosteus Tropicus yang mirip sekali dengan yang ditemukan di Surabaya :


Sedangkan ini salah satu contoh dari Genus Lepisosteus (4 spesies), yaitu Lepisosteus Osseus :


Bahkan kadang kedua spesies dari genus Atractosteus dan Lepisosteus bisa dikawinkan dan menghasilkan jenis yang baru. Ini contohnya perkawinan antara Lepisosteus platostomus dengan Atractosteus spatula.


Lalu pertanyaannya bagaimana ikan ini bisa sampai ditemukan di Indonesia ?

Jawabannya adalah sama seperti bagaimana seekor Alligator bisa ditemukan di selokan, yaitu karena seseorang menaruhnya disitu. Kejadian ini umum terjadi dimana-mana. Ketika seekor hewan bertambah besar dan merepotkan, pemiliknya yang tidak tega membunuhnya akan membuangnya.

Jadi kesimpulannya, entahkah Lepisus Peus ataukah Lepisosteus, paling tidak misteri ikan "jadi-jadian" ini sudah terpecahkan bukan ?

(Anyway, saya berpendapat ikan yang ditemukan di Sumatera Utara dan Surabaya adalah dari genus Atractosteus, bukan Lepisosteus )

Mungkin anda juga ingin membaca mengenai ikan lain yang juga pernah dianggap sebagai ikan jadi-jadian : Pacu - Ikan yang memiliki gigi seperti manusia.

(national geographic, wikipedia)

Sekelompok simpanse berduka menyaksikan kematian temannya

Sekelompok simpanse berduka menyaksikan kematian temannya

Lebih dari selusin simpanse berdiri dibalik kawat duri tanpa suara sambil menyaksikan dorothy, seekor simpanse yang berumur 40 tahun lebih, sekarat akibat gagal jantung. Ini adalah foto yang sangat menyentuh dan mungkin tidak pernah anda saksikan sebelumnya.



Para simpanse tersebut berasal dari pusat penyelamatan simpanse Sanaga Yong di Kamerun. Para penduduk lokal bekerja ditempat itu sebagai sukarelawan perawat atau "care givers" bagi para simpanse yang telah menjadi yatim piatu akibat perburuan liar.

Foto yang luar biasa ini diambil pada tanggal 23 September 2008 oleh Monica Szczupider yang bekerja di pusat penyelamatan itu. Menurut Monica, Dorothy sudah berada di pusat penyelamatan itu selama 8 tahun dan ia adalah tokoh penting di antara 25 simpanse lainnya.

"Simpanse itu secara alami bukan hewan yang suka berdiam diri. Mereka biasanya suka berteman, suka ribut dan mengeluarkan suara keras dan biasanya sangat sukar membuat mereka untuk memperhatikan sesuatu dalam waktu agak lama." Kata Monica

"Namun hari itu, mereka tidak bisa melepaskan pandangan matanya dari Dorothy dan kesunyian yang terjadi sangat luar biasa."

Sebelumnya, para ilmuwan menolak teori bahwa hewan bisa merasakan emosi dan menyebut teori tersebut sebagai "anthropomorphic" yang berlebihan. Anthropomorphic berarti mengenakan atribut atau sifat-sifat manusia kepada makhluk selain manusia.

Namun sejumlah bukti menunjukkan bahwa mungkin hewan juga bisa merasakan emosi.

Contohnya simpanse di pusat penyelamatan Sanaga Yong seringkali terlihat sedang meratapi kematian keluarga atau anggota kelompoknya dengan cara berdiam diri setelah kematian terjadi.

Bahkan menurut Dr Marc Bekoff, seorang ethologist dari universitas Colorado, burung magpies juga menunjukkan hal serupa. Ketika ada seekor di antara kelompoknya mati, mereka terlihat berduka dan mengadakan upacara penguburan dengan cara menaruh sejumput rumput di samping bangkai sahabatnya.

Sementara para simpanse di Sanaga berdiam diri dari balik kawat berduri, Dorothy dengan lembut diselimuti di tempat tidur yang membawanya ke peristirahatan terakhirnya.

Goodbye Dorothy...

(national geographic)

Seekor hiu raksasa ditemukan mati digigit oleh hiu raksasa yang lebih besar di Queensland

Seekor hiu raksasa ditemukan mati digigit oleh hiu raksasa yang lebih besar di Queensland

27 Oktober 2009, para perenang di pantai pulau Stradbroke, Queensland, Australia, diperingati otoritas setempat untuk waspada setelah ditemukan bangkai seekor hiu putih raksasa sepanjang 3 meter. Hiu tersebut ditemukan dengan kondisi tubuh hampir tergigit habis, sesuatu yang hanya bisa dilakukan oleh hiu lain yang berukuran lebih besar darinya.


Jika dilihat dari bekas gigitannya, otoritas setempat memperkirakan hiu yang menggigitnya berukuran sekitar 6 meter dan masih berkeliaran di pantai tersebut. Bayangkan ! ukuran hiu monster tersebut hampir 4 kali tinggi badan manusia normal.

Lihat betapa rapi gigitannya. Ini mengindikasikan sebagian daging hiu malang tersebut lepas dalam sekali gigitan, masing-masing di kiri dan kanan.


"Hal ini jelas membuka mata saya. Maksud saya, ukuran hiu yang digigit itu sendiri sudah sangat besar." Kata Jeff Krause dari dinas perikanan Queensland.

Berita mengenai serangan mengejutkan ini telah membuat ketakutan para penduduk di sepanjang pantai Queensland dari pulau Stradbroke, dekat Brisbane hingga ke Pantai Sunshine di selatan Brisbane. Pantai-pantai ini dikenal sebagai surga bagi para peselancar.

"Apapun yang menyerang hiu tersebut pastilah berukuran sangat besar." Kata peselancar Ashton Smith yang berusia 19 tahun. "Saya memang pernah mendengar ada hiu raksasa yang berkeliaran di perairan."

"Kami semua menjadi sangat-sangat berhati-hati."

Mr John Gooding yang mengoperasikan penyewaan kapal pemancing mengatakan bahwa memang hiu ada dimana-mana walaupun tidak ada data yang menunjukkan adanya peningkatan populasinya.

Banyak pantai yang ramai di Queensland dilindungi oleh jala atau barisan drum, yaitu barisan kail yang diikat dengan pelampung dan ditempatkan sekitar 450 meter dari pantai. Sejak perlindungan ini digunakan, hanya ada satu serangan mematikan yang pernah terjadi. Pada saat itu, seorang mahasiswi bernama Sarah Whiley terbunuh karena serangan hiu di pantai pulau Stradbrooke tiga tahun yang lalu.

Akhir-akhir ini, pemerintah daerah Queensland mendapat tekanan dari para aktivis lingkungan untuk menyingkirkan pelindung tersebut karena paus dan ikan besar lainnya sering terperangkap disitu.

Namun menurut menteri perikanan, Tim Mulherin, penemuan bangkai hiu tersebut mengindikasikan masih diperlukannya jala pelindung tersebut.

Bagaimana, berani berenang di pantai Stradbroke ??

(dailymail.co.uk)


Komentar Pilihan


Anonymous said...

Setuju ama yg diatas atas..tuh sotoshop, gw kerja d pelabuhan perikanan jd tau gmn pose ikan hiu yg mati di laut...1.No blood, 2.gak ada sisa organ perut terburai/muncul, 3.kepalanya dongak ke atas (ikan yg postrigor/setelah mati akan kembali kaku ke bentuk normal kecuali tertindih), 4.mulutnya terlalu mangap (almost all shark died with closed mouth).
November 25, 2009 9:21 PM


Anonymous said...

Ni Jhon Doe,

Nelayan Jepang yang memburu ikan hiu, biasanya hanya memotong sirip atas-nya yang berharga, trus membuang badan ikan hiunya ke laut. Saya kira hiu itu korban nelayan tsb, lalu hiu yang menderita itu tidak sanggup melawan ikan lain yang lebih besar.
October 30, 2009 11:18 AM