Large Hadron Collider disabotase oleh seekor burung

Large Hadron Collider disabotase oleh seekor burung

The Large Hadron Collider (LHC) yang juga sering disebut sebagai mesin yang mampu menciptakan kiamat mengalami peristiwa aneh yang tidak disangka. Mesin super rumit tersebut rusak setelah seekor burung yang lewat menjatuhkan sepotong kecil remah roti ke dalam mesin itu.


LHC adalah sebuah mesin raksasa yang dibuat oleh para ilmuwan jenius di CERN yang dirancang untuk memecahkan partikel yang diharapkan dapat menjawab beberapa pertanyaan dalam fisika kuantum. Mesin yang berbentuk lingkaran ini memiliki panjang 27 km dan terletak di kedalaman 175 meter di bawah tanah perbatasan Perancis-Swiss.

Subjek pemecahan partikel ini telah menarik perhatian para ilmuwan dan penggemar science fiction di seluruh dunia mengingat eksperimen ini juga dipercaya dapat menciptakan lubang hitam mini yang sering dianggap sebagai cikal bakal mesin waktu, walaupun dibantah oleh beberapa fisikawan ternama seperti Michio Kaku.

LHC ini juga sempat diangkat dalam novel Dan Brown berjudul Angels and Demons.


Sedangkan CERN adalah organisasi penelitian nuklir Eropa yang bermarkas di Jenewa yang didirikan pada tahun 1954. Fasilitas yang mereka miliki merupakan laboratorium penelitian partikel terbesar di dunia. Saat ini organisasi ini mempekerjakan hampir 8.000 ilmuwan jenius yang mewakili 580 universitas yang berasal dari 80 negara. Mungkin banyak dari kita yang belum mengetahui kalau cikal bakal internet pertama kali bermula dari CERN.

Pada awal November ini, LHC mengalami pemanasan yang berlebihan di beberapa bagian setelah sebuah potongan kecil Baguette (sejenis roti) mendarat di sebuah peralatan yang ada di permukaan tanah tepat di atas cincin akselerator.

Dr Mike Lamont, kordinator mesin LHC, mengatakan bahwa potongan kecil baguette itu yang dipercaya dijatuhkan oleh seekor burung yang lewat telah menyebabkan suhu magnet superkonduktor naik dari -271.1 C menjadi -265 C, yaitu titik dimana magnet itu berhenti berfungsi.

Dalam teori, jika LHC beroperasi secara penuh, peristiwa ini dapat menjadi bencana besar. Namun menurut para ilmuwan, mereka telah menyediakan sistem keselamatan yang memadai yang dapat mematikan mesin secara otomatis sebelum suhu naik lebih tinggi.

Pemecahan partikel penuh direncanakan akan dimulai lagi pada pertengahan bulan ini.

Apabila beroperasi, LHC akan menembakkan proton dan ion timah yang akan bergerak menyusuri rute berbentuk lingkaran dengan kecepatan yang hampir menyamai kecepatan cahaya. Proton dan Ion timah tersebut mengandung energi setara dengan kereta super cepat yang bergerak dengan kecepatan penuh.

Tahun lalu, mesin seharga 10 miliar dolar Amerika ini justru menjadi rusak setelah energi super besar ini menjadi tidak terkontrol dan menyebabkan kebocoran gas helium.

Kerusakan beruntun yang dialami oleh LHC telah menyebabkan sebagian ilmuwan berspekulasi bahwa mesin ini telah disabotase oleh partikel lintas waktu mereka sendiri yang datang dari masa depan. Pendapat ini mirip dengan film terminator dimana seorang robot diutus untuk membunuh cikal bakal pemimpin pemberontakan masa depan.

Namun eksperimen CERN ini ternyata tidak mendapat kata sepakat di kalangan ilmuwan. Menurut sebagian ilmuwan, jika lubang hitam mini tercipta, dan terjadi sesuatu yang diluar perhitungan, bisa saja lubang hitam tersebut menjadi membesar tanpa terkendali dan menelan apa saja yang berada di dekatnya. Dengan kata lain, Kiamat !

Seperti yang kita ketahui, lubang hitam memiliki gaya gravitasi super kuat sehingga bahkan cahayapun ditelan olehnya.

Karena itu di sejumlah negara di Amerika dan Eropa, beberapa ilmuwan telah mengajukan gugatan hukum agar CERN menghentikan usahanya untuk memecahkan partikel.


Apakah mungkin seekor burung dikirim dari masa depan untuk menggagalkan usaha CERN ?? Hmm..paling tidak ia tahu sekali dimana harus menjatuhkan rotinya supaya mesin tersebut rusak.

Notes :
Saya suka dengan ide bahwa seekor burung yang lugu dan remah rotinya dapat menggagalkan kejeniusan 8.000 ilmuwan dengan mesin super rumit dan super mahalnya :)


(telegraph.co.uk, wikpedia)

Para dokter hewan dibingungkan dengan Beruang yang kehilangan bulu di Leipzig

Para dokter hewan dibingungkan dengan Beruang yang kehilangan bulu di Leipzig

Para dokter hewan di Jerman dibuat bingung dengan kejadian yang menimpa beberapa beruang di sebuah kebun binatang di Leipzig. Entah terkena penyakit apa, beruang-beruang ini kehilangan bulu mereka begitu saja.
Jika kalian sedang berjalan di kebun binatang Leipzig dan melihat beruang-beruang tersebut, mungkin kalian mengira sedang menyaksikan seekor chupacabra atau monster misterius lainnya. Namun sesungguhnya hewan dengan bentuk aneh tersebut adalah beruang yang kehilangan bulu-bulu mereka akibat penyakit yang belum teridentifikasi oleh para dokter hewan. Anehnya, penyakit aneh ini hanya menyerang beruang betina.

Ini adalah Dolores, salah satu beruang malang yang kehilangan bulunya.


Beruang-beruang tersebut berasal dari Amerika Selatan dan normalnya memiliki bulu berwarna coklat tua yang seharusnya bertambah lebat dalam bulan ini karena memasuki musim dingin.

Dan hati kalian mungkin akan lebih miris jika melihat rupa mereka sebelum terkena penyakit. So Cute..


Poor Dolores..

(dailymail.co.uk)

Misteri monster danau Cameron

Misteri monster danau Cameron

Danau Cameron adalah sebuah danau populer yang berlokasi di British Columbia, Kanada. Luasnya sekitar 4,5 km2 dan dalamnya sekitar 70 meter. Di dalam danau tersebut hidup berbagai jenis ikan seperti salmon dan trout. Danau ini tidak membeku ketika musim dingin dan di danau ini pula para turis dan penduduk sekitar melaporkan adanya makhluk misterius yang kadang terlihat muncul ke permukaan.


Tidak seperti rekannya Nessie dari Lochness, monster danau Cameron adalah makhluk yang relatif baru dalam dunia Cryptozoology. Penampakan Nessie sudah tercatat sejak abad ke-6, namun monster danau Cameron baru muncul ke permukaan pada tahun 2004.

Pada waktu itu seorang wanita dan ayahnya yang sedang menyetir mobil di samping danau mengaku melihat makhluk panjang berwarna hitam sedang berenang di danau itu. Namun laporan penampakan itu tidak terlalu diingat oleh publik hingga penampakan lainnya dilaporkan pada tanggal 30 Juli 2007.

Saat itu Bridgette Horvath sedang menyetir mobilnya ketika ia menyaksikan gejolak air yang mencurigakan di danau. Ia tidak melihat ada perahu di danau. Jadi pastilah gejolak itu ditimbulkan oleh sesuatu di dalam air.

Horvath menepikan mobilnya dan berjalan mendekati danau dengan kamera ditangannya. Kemudian, ia kembali melihat gejolak di air. Tanpa membuang waktu, Horvath segera memotretnya.

"Bentuknya seperti ular." Katanya.

"Objek itu bukan batang kayu, juga bukan ombak karena tidak ada kapal saat itu. Bahkan engkau bisa melihat sesuatu seperti seekor ikan besar, objek itu sesuatu yang hidup" Sambungnya lagi.

Foto yang diambil Horvath segera menghiasi headline-headline di berbagai media dunia. Sejak saat itu, makhluk misterius danau Cameron mendapat sebuah nama, Cammy.


Sekarang komunitas Cryptozoology mulai menaruh perhatian terhadap danau Cameron.

John Kirk, pendiri dari British Columbia Scientific Cryptozoology Club mengatakan bahwa organisasinya telah mulai mengkatalogkan laporan-laporan penampakan danau Cameron yang masuk sejak tahun 2004 yang lalu.

"Saya tidak siap untuk mengatakan apa yang ada di danau itu, namun memang ada sesuatu di dalam danau itu dan yang pasti berukuran besar, lebih besar dibanding ikan trout atau ikan danau lainnya." Kata Kirk.

Menurut Kirk, British Columbia memiliki legenda monster danau lebih banyak dibanding daerah lainnya di dunia. Paling tidak 39 danau di propinsi itu dipercaya didiami oleh makhluk misterius tidak dikenal.

Kirk lalu membentuk sebuah tim dan mulai mengadakan ekspedisi yang dilakukan pada tanggal 19 September 2009. Dengan sebuah kapal yang diperlengkapi sonar, mereka menyusuri danau Cameron dan meneliti data sonar satu persatu.

Ketika mereka sampai pada sebuah lokasi yang bernama Angel Rock, sonar menangkap sebuah objek raksasa diantara kumpulan ikan-ikan di kedalaman 18 meter dan hanya berjarak 25 meter dari pantai. Namun mereka tidak dapat memastikan identitas objek tersebut.

Sayang, penyelidikan mereka terpaksa dihentikan lebih awal karena Kirk kehilangan kamera bawah airnya setelah talinya terpotong baling-baling kapal.

"Sangat tidak biasa ada sesuatu berukuran begitu besar di danau Cameron. Jadi kami sangat antusias dan berencana untuk kembali tahun depan." Kata Kirk.

Menurut Kirk, monster danau Cameron mungkin saja merupakan makhluk yang telah kita kenal sebelumnya seperti belut raksasa atau ikan sturgeon yang berukuran besar. Belut raksasa diketahui bisa mencapai panjang 4 meter.

Namun menurut pendapat beberapa Cryptozoologyst lainnya, ada kemungkinan Cammy adalah seekor Cadborosaurus. Kirk tidak menolak kemungkinan ini. Cadborosaurus adalah seekor makhluk misterius berbentuk ular laut yang secara tidak resmi menjadi maskot turisme wilayah Victoria.

Pada tahun 1937, seorang nelayan menemukan bangkai seekor Cadborosaurus di dalam perut seekor Paus di teluk Cadboro di Victoria.


Bentuk makhluk ini menyerupai seekor ular dengan punuk-punuk kecil di punggung dan kepala menyerupai kuda. Di bagian depan badannya terdapat sepasang sirip kecil. Sedangkan ekornya memiliki bentuk seperti kipas yang dipercaya untuk mempermudahnya berenang.

Selama 200 tahun terakhir, ada sekitar 300 laporan penampakan Cadborosaurus di wilayah British Columbia. Ogopogo di danau Okanagan juga dicurigai sebagai Cadborosaurus.

Apakah seekor Cadborosaurus tersesat ke danau Cameron ?

Memang sepertinya terlalu dini untuk menyimpulkan mengenai identitas monster danau Cameron. Ada beberapa pertanyaan yang masih menggantung di benak para Cryptozoologyst seperti mengapa penampakan pertama baru terjadi pada tahun 2004 ? Apakah makhluk itu baru bermigrasi dari danau lainnya ? Atau apakah para saksi hanya salah menginterpretasikan penampakan itu ?

Sepertinya kita harus menunggu ekspedisi Kirk tahun depan.

(wikipedia, bclocalnews.com, news.aol.ca)

UFO berbentuk bola cahaya terlihat terbang mendahului sebuah mobil di Brazil

Seorang pengusaha sedang menyetir mobilnya di sepanjang jalan tol dekat Palmas, Tocantins, Brazil. Sedang asyik-asyiknya berkendara, tiba-tiba ia melihat sebuah bola cahaya yang sangat terang terbang mendekati mobilnya.


Bola cahaya itu segera menyamai kecepatan mobil yang dikendarainya. Dan dalam hitungan detik, ia sudah ada di depan mobil. Refleks, pria itu segera mengambil ponselnya dan memotret objek misterius itu.


Pria itu memastikan bahwa bola cahaya tersebut bukan refleksi lampu blitz kamera karena ia tidak menyalakannya ketika memotret objek tersebut.

Walaupun sukar dipercaya, namun jalan tol yang dilaluinya memang merupakan sebuah wilayah yang dipenuhi dengan penampakan bola cahaya aneh. Sebelumnya beberapa saksi lain pernah melaporkan melihat objek metalik misterius yang terbang di atas jalan tol tersebut.

Notes :
Walaupun kisah mengenai UFO menarik, sebenarnya saya tidak terlalu suka memposting foto UFO karena banyaknya hoax yang beredar. Namun jika saya tidak bisa memastikan palsunya sebuah foto, saya rasa tidak ada salahnya mempostingnya, just for your info. Soal apa yang kalian percayai, saya kembalikan kepada masing-masing pembaca.

(xnewsnow.com)

Misteri manuskrip Voynich - Terpecahkan ?

Misteri manuskrip Voynich - Terpecahkan ?

Pada tahun 1912, seorang pedagang barang antik mendapatkan sebuah manuskrip kuno yang dipercaya telah berusia beberapa ratus tahun. Hingga sekarang, manuskrip ini dianggap sebagai dokumen paling misterius di dunia karena sejak penemuannya pada tahun 1912 hingga sekarang, belum ada yang berhasil memecahkan arti dari tulisan-tulisan yang ada di dalamnya.


Manuskrip Voynich - Penemuan
Manuskrip ini pertama kali muncul ke permukaan pada tahun 1912 ketika seorang pedagang dan pengumpul buku kuno bernama Wilfrid M Voynich menemukannya di antara kumpulan manuskrip kuno yang tersimpan di Vila Mondragone di frascati dekat Roma.

Voynich segera mengenali pentingnya penemuan itu. Walaupun hanya terlihat seperti sebuah buku pegangan para alchemist, Voynich bisa melihat bahwa manuskrip itu sepenuhnya tertulis di dalam bahasa kode. Ia lalu meminta para kryptolog paling terkenal pada zamannya untuk memecahkan misteri tulisan-tulisan dalam manuskrip tersebut. Namun usaha itu tidak membuahkan hasil.

Manuskrip Voynich - Sejarah

Tidak ada yang mengetahui secara pasti asal muasal manuskrip tersebut. Berdasarkan pada gambar-gambar yang ada di dalamnya, para ahli percaya bahwa manuskrip itu berasal dari Eropa dan kemungkinan berasal dari abad 15 atau 17 Masehi.

Catatan kuno yang diketahui pertama kali menyinggung manuskrip ini berasal dari surat seorang alchemist bernama Georg Baresch yang ditujukan kepada Athanasius Kircher, seorang sarjana Jesuit dari Roma.

Dalam suratnya, Baresch meminta bantuan Kircher untuk memecahkan arti tulisan-tulisan dalam manuskrip tersebut. Namun Kircher juga tidak bisa memecahkan misteri itu. Setelah kematian Baresch, kepemilikan manuskrip tersebut jatuh ke tangan Kircher dan tersimpan rapi di perpustakaan Collegio Romano. Manuskrip ini tetap tersimpan rapi di tempat itu hingga 250 tahun kemudian.

Pada tahun 1912, Collegio Romano yang membutuhkan uang memutuskan untuk menjual sebagian manuskrip-manuskrip kuno yang dimilikinya kepada para kolektor dan saat itulah Voynich mendapat 30 diantaranya, termasuk manuskrip misterius itu.

Manuskrip Voynich - Karakteristik dan Isi
Walaupun ukurannya cukup kecil, hanya 7 kali 5 inci. Namun manuskrip itu memiliki ketebalan 240 halaman. Di dalam setiap halamannya kita bisa menemukan tulisan-tulisan tangan dengan huruf-huruf yang tidak dikenal beserta ilustrasi-ilustrasi kasar seperti tanaman, diagram astrologi dan bahkan wanita telanjang.


Manuskrip itu berisi 170.000 huruf yang dipisahkan dengan spasi sempit. Kebanyakan huruf itu ditulis hanya dengan satu atau dua kali goresan pena. Para peneliti menduga bahwa jumlah jenis alphabet di dalam manuskrip itu hanya sekitar 20-30 huruf yang berbeda. Luar biasanya, alphabet yang digunakan di manuskrip tersebut tidak memiliki keterkaitan dengan bahasa-bahasa yang ada di Eropa kuno.


Dari gambar-gambar ilustrasi yang dibuat di dalam manuskrip, para peneliti menyimpulkan bahwa manuskrip tersebut berisi catatan-catatan mengenai herbal, astronomi, biologi, kosmologi, farmasi dan resep-resep obat. Namun isinya, masih merupakan misteri.


Manuskrip Voynich - Usaha memecahkan misteri
Pada tahun 1921, seorang profesor filsafat dari Universitas Pennsylvania bernama Willaim R Newbold mengklaim bahwa di setiap karakter yang terdapat di dalam manuskrip Voynich ada goresan pena yang sangat halus yang hanya bisa dilihat dengan kaca pembesar dan membentuk huruf-huruf Yunani kuno.

Berdasarkan asumsi ini, Newbold menyimpulkan bahwa Manuskrip ini berisi mengenai penemuan-penemuan sains dan ditulis pada abad ke-13 oleh ilmuwan dan filsuf Roger Bacon. Satu dekade kemudian, kesimpulan Newbold dibantah oleh para peneliti lainnya dengan mengatakan bahwa goresan halus tersebut hanyalah pecahan alami dari tinta yang digunakan untuk menulis.

Usaha Newbold hanyalah sebuah permulaan dari usaha panjang untuk memecahkan misteri ini.

Pada tahun 1940an, pemecah kode amatir bernama Joseph M Feely dan Leonell C Strong menggunakan huruf-huruf Roma yang bisa disubtitusikan ke karakter Voynich. Dari hasil penelitiannya, Strong menyimpulkan bahwa manuskrip ini dibuat oleh penulis Inggris dari abad 16 bernama Anthony Ascham yang salah satu karyanya berjudul "A Little Herbal" diterbitkan tahun 1550.

Walaupun manuskrip tersebut memiliki kemiripan isi dengan "A Little Herbal", namun para peneliti tidak bisa melacak bagaimana Anthony Ascham bisa mendapatkan pengetahuan mengenai kryptografi. Kesimpulan Strong akhirnya diabaikan oleh peneliti lainnya.

Pada tahun 1945, Misteri ini diserahkan ke tangan para ahli pemecah kode yang berhasil memecahkan kode tentara jepang pada perang dunia II. Tim pemecah kode ini belum pernah gagal memecahkan kode apapun yang disodorkan. Namun mereka juga gagal menyingkap misteri manuskrip Voynich.

Pada tahun 1978, seorang ahli bahasa bernama John Stojko mengklaim bahwa teks yang terdapat dalam manuskrip Voynich sesungguhnya ditulis dalam bahasa Ukrainia dengan seluruh huruf hidupnya dihilangkan. Namun dengan metode ini, terjemahan yang dihasilkan sepertinya tidak masuk akal. Seperti satu kalimat yang berbunyi : "Emptiness is that what Baby God's Eye is fighting for" sama sekali tidak sesuai dengan ilustrasi yang ada pada halamannya.

Pada tahun 1987, seorang ahli fisika bernama Leo Levitov menyatakan bahwa manuskrip tersebut dihasilkan oleh kaum Cathar, sebuah sekte yang dianggap sesat pada abad pertengahan di Perancis. Menurut Levitov, huruf yang digunakan adalah campuran dari berbagai bahasa, yaitu Belanda, Jerman dan Perancis kuno. Walaupun sepertinya masuk akal, namun hasil terjemahan yang dihasilkan Levitov tidak juga menjadi masuk akal jika dibandingkan dengan sejarah ataupun teologi kaum Cathar.

Manuskrip Voynich - Hoax
Setelah menjalani puluhan tahun penelitian, ada satu teori yang saat ini dianggap paling masuk akal, yaitu bahwa manuskrip Voynich hanyalah sebuah hoax atau rekayasa.

Klaim ini pada awalnya datang dari seorang psikolog dan dosen ilmu komputer dari universitas Keele di Inggris yang bernama Gordon Rugg. Ia mempublikasikan penemuannya pada jurnal cryptologia pada tahun 2004.

Selama tiga bulan, Rugg, meneliti manuskrip misterius tersebut tanpa hasil hingga ia sampai pada kesimpulan bahwa manuskrip tersebut hanyalah sebuah hoax. Kesimpulan ini membuat para Voynichologist terkesan. Mereka yang selama bertahun-tahun mencoba memecahkan misteri manuskrip ini tanpa hasil tiba-tiba merasa bahwa ini adalah jawaban yang masuk akal.

Rugg sampai pada kesimpulan ini setelah melihat struktur bahasa yang aneh pada manuskrip ini. Misalnya pada folio 78R, dengan menggunakan model pemecahan versi Rugg, akan terbaca : qokedy qokedy dal qokedy qokedy.

Kata qokedy diulang hingga empat kali dalam sebuah kalimat pendek. Pengulangan seperti ini merupakan hal yang tidak pernah ditemukan dalam bahasa manusia. Terlalu aneh, jadi pastilah manuskrip ini hanyalah sebuah hoax, demikian kesimpulan Rugg. Kesimpulan ini memang tidak pernah terpikirkan sebelumnya oleh peneliti lain.

Kemudian Rugg mulai mencari pemecahan lebih lanjut berdasarkan atas asumsi hoax. Ia kemudian bertanya pada dirinya sendiri. Jika saya tinggal di abad 16 dan ingin membuat sebuah buku yang misterius namun tidak terpecahkan, bagaimanakah cara yang paling murah dan gampang ?

Ia lalu menemukan sebuah peralatan yang disebut Cardan Grille yang pertama kali dideskripsikan pada tahun 1550 oleh Girolamo Cardano. Menurut Rugg, apabila menggunakan alat itu, seseorang yang cukup cerdas dapat menulis satu halaman manuskrip Voynich dalam satu atau dua jam yang berarti dapat menyelesaikan satu buku dalam waktu tiga atau empat bulan termasuk ilustrasi-ilustrasinya.

Rugg bahkan berani menyimpulkan bahwa manuskrip ini dibuat oleh seorang alchemist Inggris bernama Edward Kelley.

Lalu pertanyaannya, jika manuskrip ini hanyalah sebuah rekayasa, mengapa seseorang mau bersusah payah membuatnya ? Rugg punya jawabannya, yaitu uang.

Menurut catatan sejarah, Raja Roma, Rudolph II yang diperlihatkan manuskrip tersebut pertama kali begitu tertarik dengan keindahan buku tersebut sehingga memutuskan untuk membelinya seharga 600 Dukat Emas, atau sekitar $50.000 zaman sekarang. Jumlah uang yang cukup besar bagi sang perekayasa.

Pada tahun 2007, hipotesis Rugg didukung oleh dua kriptolog terkenal bernama Andreas Schinner dan Claude Martin.

Manuskrip Voynich - Sekarang
Walaupun kesimpulan Rugg cukup masuk akal, namun argumennya tidak begitu saja diterima oleh Voynichologist lainnya. Menurut mereka, bisa saja manuskrip tersebut dibuat untuk menyimpan pesan rahasia dalam kalimat-kalimat yang tidak teratur. Rugg tidak membantah kemungkinan ini.

Pada tahun 1961, manuskrip Voynich dibeli oleh H.P Kraus senilai $24.500. Manuskrip itu kemudian didonasikan ke universitas Yale pada tahun 1969 dan disimpan dengan rapi di perpustakaan Yale hingga saat ini.

Jadi apakah misteri manuskrip Voynich sudah terpecahkan ? Saya menyerahkan kepada anda untuk menilainya. Namun menurut saya, misteri Voynich tidak akan benar-benar terpecahkan sebelum kita mengidentifikasi penulis sesungguhnya.


(wikipedia, crystalinks.com, wired.com, scientificamerican.com)

Inbox: UFO di atas Pantai Nusa Dua?

Dibawah ini adalah email dari Devy yang dikirim ke enigma :

Pada tgl 28 oktober 2009, tepatnya di lokasi nusa dua beach, Bali, saya sedang berjalan-jalan santai di pinggir pantai sambil mengabadikan pemandangan indah sore hari. Saat itu waktu menunjukan sekitar pukul 17.40 waktu setempat di bali. Kemudian saya melihat ke langit karena terkagum dengan indahnya matahari sore. Tiba-tiba Saya melihat seperti ada awan yang terbelah dan jelas sekali ada objek yang bergerak dengan lumayan cepat ke arah bawah, sekilas seperti komet.




Tapi pada saat itu saya dapat melihat cukup jelas bahwa itu bukanlah komet, tapi seperti sebuah pesawat dgn lampu di kedua sisi pesawat, dan bentuk pesawat tersebut tidak lazim seperti bentuk-bentuk pesawat yang pernah ada di dunia ini.

Kemudian saya langsung abadikan foto ini dari iphone saya. Tapi sayang saya tidak mengambil banyak foto saat itu karena sudah harus segera kembali ke hotel. Trims.

Notes :
Saya sudah mengecek metadata foto ini dan menunjukkan bahwa foto ini diambil dengan iphone pada tanggal 28 Oktober 2009 pukul 17:13. Saya percaya keaslian foto ini, namun saya tidak dapat memastikan identitas objek yang terfoto. Mungkin saja meteor atau sampah antariksa. Tapi saksi melihat kelap kelip lampu seperti pesawat yang sepertinya tidak sesuai dengan deskripsi meteor.

Tapi paling tidak kita memang bisa menyebutnya sebagai UFO, apakah Unidentified Flying Object atau Unidentified Falling Object. iya kan ?


Nama lengkap dan alamat email Devy ada pada saya.


UPDATE: 17 Juli 2011
Saya rasa objek di atas bukan UFO atau sampah antariksa, melainkan hanya jejak sebuah pesawat. Baca penjelasannya disini.
Sekelompok simpanse berduka menyaksikan kematian temannya

Sekelompok simpanse berduka menyaksikan kematian temannya

Lebih dari selusin simpanse berdiri dibalik kawat duri tanpa suara sambil menyaksikan dorothy, seekor simpanse yang berumur 40 tahun lebih, sekarat akibat gagal jantung. Ini adalah foto yang sangat menyentuh dan mungkin tidak pernah anda saksikan sebelumnya.



Para simpanse tersebut berasal dari pusat penyelamatan simpanse Sanaga Yong di Kamerun. Para penduduk lokal bekerja ditempat itu sebagai sukarelawan perawat atau "care givers" bagi para simpanse yang telah menjadi yatim piatu akibat perburuan liar.

Foto yang luar biasa ini diambil pada tanggal 23 September 2008 oleh Monica Szczupider yang bekerja di pusat penyelamatan itu. Menurut Monica, Dorothy sudah berada di pusat penyelamatan itu selama 8 tahun dan ia adalah tokoh penting di antara 25 simpanse lainnya.

"Simpanse itu secara alami bukan hewan yang suka berdiam diri. Mereka biasanya suka berteman, suka ribut dan mengeluarkan suara keras dan biasanya sangat sukar membuat mereka untuk memperhatikan sesuatu dalam waktu agak lama." Kata Monica

"Namun hari itu, mereka tidak bisa melepaskan pandangan matanya dari Dorothy dan kesunyian yang terjadi sangat luar biasa."

Sebelumnya, para ilmuwan menolak teori bahwa hewan bisa merasakan emosi dan menyebut teori tersebut sebagai "anthropomorphic" yang berlebihan. Anthropomorphic berarti mengenakan atribut atau sifat-sifat manusia kepada makhluk selain manusia.

Namun sejumlah bukti menunjukkan bahwa mungkin hewan juga bisa merasakan emosi.

Contohnya simpanse di pusat penyelamatan Sanaga Yong seringkali terlihat sedang meratapi kematian keluarga atau anggota kelompoknya dengan cara berdiam diri setelah kematian terjadi.

Bahkan menurut Dr Marc Bekoff, seorang ethologist dari universitas Colorado, burung magpies juga menunjukkan hal serupa. Ketika ada seekor di antara kelompoknya mati, mereka terlihat berduka dan mengadakan upacara penguburan dengan cara menaruh sejumput rumput di samping bangkai sahabatnya.

Sementara para simpanse di Sanaga berdiam diri dari balik kawat berduri, Dorothy dengan lembut diselimuti di tempat tidur yang membawanya ke peristirahatan terakhirnya.

Goodbye Dorothy...

(national geographic)